Sabtu, 14 Juli 2018

PUISI balada hati


BALADA HATI
 Prisca Tiara

Aku mengundang gerimis hari ini
Menyapa rindu yang tak tersampaikan
Berteman kalut perasaan
Membawa harap dalam penantian
Mengapa tak kunjung usai?
Tentang rasa yang masih menggantung
Tentang kisah yang masih membekas
Hari-hari ku mati setelah kepergianmu...
Serupa kutukan  membuntuti harap semu
Aku mundur dalam penantian
Bertahan hanya berujung kesedihan
Melebarkan luka dari cerita lama
Terlampaui mengingat tentangmu
Hingga tak terasa, telah datang lagi remang di pagi buta
Aku ingat betul mengenai ikrar-ikrar janji
Namun, bolehkah sekarang aku tertawa?
Meratapi kebodohanku semata
Nyatanya engkau memilih pergi tanpa jejak
Menggantungkan aral beruntut
Semesta tau,
Kita pernah berjalan dibawah rinai hujan kala itu
Menikmati segelintir kebersamaan
Membangun baret-baret mimpi
Untuk hal-hal di kemudian hari
Kita tertawa lepas... tanpa beban
Tetapi pada akhirnya,
Kita terseret pada cinta yang pura-pura
Membuat terseok-seok
Untuk melanjutkan sebuah kisah
Pernah suatu masa
Aku mencoba bertahan
Mengabaikan warasku
Membutakan pandangan mengenai sisi kejammu
Menyengajakan tuli dari hujatan mereka
Sekali lagi...
Apa yang aku lakukan
Dibalas tangisku sehina-hinanya
Menjejalkan rasa sakit dan membekas
Akankah kau tau arti rinduku?
Ketika segenap doa mengalir menyebut namamu
Megagungkan segala kelebihanmu
Aku menahan sepi,bersama sendu yang nyalang
Ini masih tentang nestapa hati ketika bumi  menyediakan tanah, lahan, dan daratan
Sebagai tempat menyerukan laraku
Perihku...
Aku kehilangan daya khayal
Seolah semangat –semangat dipatahkan olehmu
Ah....
Bisakah kita kembali seperti dulu?
Kurasa jawabanya” tidak”
Tetap tidak!
Kalah....
Aku kalah oleh takdirku
Ketetapan tak mengizinkan kita bersatu
Dari patah hati-patah hati yang kulewati
Kecewa-kecewa yang kulalui
Tetap saja, kau tak peduli
Arogan serta ego medominasi hati
Tidak ada secuil pun rasa menghargai
Kini tiba saatnya
Dimana aku melepasmu kepada semesta
Merelakan semua rasa       
Dan membiarkanya maiti bersama sisa-sisa cinta

Purbalinggga, 2017

Tidak ada komentar:

Posting Komentar