Di tepi bengawan duduk seorang puan ditemani kehampaan
Mengelana pikiran pada luasnya rimba ingatan
Puan itu ialah aku, yang terjebak dalam titian mangsa
Kala keping-keping memori silam terputar di jemala
Di ambang kejemuan,
Aku menjadi tawanan zaman
Yang mendekam dalam terungku penghakiman dan tuntutan
Yang tersungkur dalam liang kosong penuh kepura-puraan
Akan ku guratkan pena pada secarik kertas lapuk
Merangkum nestapa yang membuat diri terpuruk
Aku menjelama luka,
Dari lontaran kata-kata yang menusuk minda
Aku menjelma luka,
Dari godam tuntutan yang memaksaku menjadi sempurna
Dalam perenungan,
Ku biarkan sajak-sajaku mengalirkan air mata
Menerima takdir yang dikandung dalam rahim semesta
Biarlah luruh segenap ketidakberdayaan karsa
Takan ada lagi standarisasi diri
Takan ada lagi tekanan yang menggerus mental
Takan ada lagi paksaan untuk mengikuti kemauan orang
Aku tlah sampai pada penerimaan
Tiada sesiapa berkuasa terhadapku
Tiada sesiapa memperbudak aku
Akan ku merdekakan diriku sendiri
Akan ku larungkan cinta yang tiada bertepi
Dengan segenggam keyakinan,
Akan kubunuh selaksa ketakutan;
kekhawatiran;
keraguan;
ketidakpercayaan;
serta kebohongan.
Aku berjumawa
Tidak akan memudar dalam gerusan waktu
Siap melangkah meski tak dipapah
Siap maju meski aral mengiringi jalanku
Siap berdiri di atas pijakan sendiri
Biarlah aku menjadi aku
Biarlah aku mengasihi aku