Kamis, 24 Juni 2021

Aku, Biarlah Menjadi Aku

Di tepi bengawan duduk seorang puan ditemani kehampaan
Mengelana pikiran pada luasnya rimba ingatan
Puan itu ialah aku, yang terjebak dalam titian mangsa
Kala keping-keping memori silam terputar di jemala

Di ambang kejemuan,
Aku menjadi tawanan zaman
Yang mendekam dalam terungku penghakiman dan tuntutan
Yang tersungkur dalam liang kosong penuh kepura-puraan

Akan ku guratkan pena pada secarik kertas lapuk
Merangkum nestapa yang membuat diri terpuruk
Aku menjelama luka,
Dari lontaran kata-kata yang menusuk minda
Aku menjelma luka,
Dari godam tuntutan yang memaksaku menjadi sempurna

Dalam perenungan, 
Ku biarkan sajak-sajaku mengalirkan air mata
Menerima takdir yang dikandung dalam rahim semesta
Biarlah luruh segenap ketidakberdayaan karsa

Takan ada lagi standarisasi diri
Takan ada lagi tekanan yang menggerus mental 
Takan ada lagi paksaan untuk mengikuti kemauan orang
Aku tlah sampai pada penerimaan

Tiada sesiapa berkuasa terhadapku
Tiada sesiapa memperbudak aku
Akan ku merdekakan diriku sendiri
Akan ku larungkan cinta yang tiada bertepi

Dengan segenggam keyakinan,
Akan kubunuh selaksa ketakutan;
kekhawatiran;
keraguan;
ketidakpercayaan;
serta kebohongan.

Aku berjumawa
Tidak akan memudar dalam gerusan waktu
Siap melangkah meski tak dipapah
Siap maju meski aral mengiringi jalanku
Siap berdiri di atas pijakan sendiri

Biarlah aku menjadi aku
Biarlah aku mengasihi aku

Senin, 21 Juni 2021

Rintihan Bocah Pinggiran

Ibu guru, bukuku lapuk dengan robekan sampul yang makin memburuk
Bapak guru, isi penaku makin terkikis sebab terus kupakai untuk menulis
Tapi pak, bu, guratan aksaraku tidaklah bernyawa, tidak lagi berarti
Aku tetaplah tertinggal materi
Bukan aku tak mau berusaha memahami. Namun sarana belajar tak memadai
Pandemi masih bersarang di rahim semesta
Sekolah-sekolah ditutup semetara. Belajar daring jadi hal yang biasa
Aku terseok dalam langkah penuh nestapa
Pada setumpuk pilu, aku dipaksa menerima takdir yang durjana
Pak guru, bu guru, berikan pemaklumanmu
Aku hanyalah orang tak punya
Emak bapak bermuram durja sebab pekerjaan telah direnggut
Jangankan membeli gawai untuk sekolah,
Mengais sesuap nasi pun susah
Jangankan selalu mengisi kuota,
Membeli sembako saja banting tulang dalam bekerja
Jangankan mengumpulkan tugas tepat waktu,
Saat jaringan hilang, pelajaran pun tertinggal. Ah malangnya aku
Aku yang buta teknologi semakin merintih
Hanya mampu memagut harap pada negeri yang katanya berdalih ‘keadilan’
Apa hak belajar hanya bagi mereka yang berkecukupan?
Apa hak menuntut ilmu hanya berlaku bagi mereka yang tinggal di perkotaan?
Aku dan kaum-kaum sepertiku terlantar di haribaan nasib
Ingin mendapat pendidikan layak saja kesulitan. Inilah potret sekolah virtualnya 
bocah pinggiran!
Menangis tanpa air mata, menjerit tanpa suara.
Duhai para petinggi negara,
Semoga doaku pada Tuhanku sampai padamu
Semoga rintihanku terdengar olehmu
Semoga aku bisa belajar, dengan penunjang yang mestinya
Ku larungkan amiin pada akhir doa ini.

Elegi Sekuntum Mawar

Setangkai mawar dalam bejana mungil ini raib harumnya
Kelopak kembang mulai layu, bersama gugur daun sebagai isyarat duka
Rona merahnya memudar seiring hilang karsa
Duri-duri menancapkan luka pada kenangan yang memuar di jemala

Tuan, ingatkah kau pada bunga pemberianmu?
Yang mengering dalam sapuan waktu
Yang masih aku jaga dalam dekapan pilu
Meski elegansi tak lagi ada, namun memori pada kuntumnya masih terpaku

Aku membuka netra, menyeka air mata yang menghujani kemarau rindu
Menyadari kenyataan bahwa kau tak lagi bersamaku
Kalut. Aku memapah jiwa yang kesakitan akan sebuah perpisahan
Menegarkan diri biarpun harus terseok-seok dalam langkah kejemuan

Sepi melenggang pada tumpuk kegusaran
Kepergian membawa ingatan pada luasnya kenangan
Kini kau jauh dari rengkuhan
Hati hancur berkecai, terbata membaca sajak-sajak kepedihan

Tuan, selaksa harap masih ku tautkan padamu
Meski kebenaranya, aku dipaksa tunduk pada kuasa waktu
Dipaksa menyerah dihadapan kenyataan
Biar saja, aku moksa dalam penantian

Sekalipun aral menemani perjalanan,
Sekalipun jelaga mewarnai pengelanaan,
Sampai kini masih namamu yang menjadi tujuan
Sampai kini masih padamu cinta kularungkan

Kini, jarak kita tak lagi bisa di tepis
Mawarku biarlah melayu sampai habis seluruh tangis
Kini, kau aksa dari saujana
Berlalu meninggalkan nestapa

Luka sekuntum mawar masih menganga
Menyisakan sendu yang menyeruak di halaman dada
Berbahagialah sayang. Jangan risau, merawat kesedihan biar jadi bagianku
Aku, melepasmu.