Sabtu, 28 Juli 2018

Puisi tema hijrah


HIJRAHMU JADI PUISI


Pada dunia yang semakin hingar
Kepalsuan mewabah begitu gencar
Menipu nikmat menjadi sesat
Memaksa hampa kuat terikat

Apa dayanya?
Dibutakan sebuta-butanya
Ditulikan setuli-tulinya
Terseok pada cinta yang pura-pura
Inikah bentuk manipulasi rasa?
Tidak...Tidak!
Bukankah Tuhan selalu benar dalam berencana?
Menulis skenario terbaik untuk umatNya
mendekap hamba ikuti alur cerita
Sedang manusia hanya sebatas menduga

Waktu bagitu hebat
Menyegerakanmu mengerti makna cinta sesungguhnya
Memaksamu keluar dari lingkar dosa

Cinta memang fitrah,
Tapi yang salah adalah hubungan tidak sah
Kau benar dalam mengambil langkah
Hentikan kegilaan tak berfaedah
Menata hati menuju hijrah

Untuknya yang pernah memberi kebahagiaan
Untuknya yang pernah kau sematkan harapan
Bila kalian kembali dipertemukan
Berharaplah menyatu dalam ketaatan
Bilapun sebaliknya,
Brrsemogalah agar takdir tunjukan kebenaran

Tuan,
Tak usah risau
Kekosanganmu kini ialah bentuk pengabdian
Melabuhkan cinta untuk Tuhan tak pernah berujung kehampaan
Jiwamu disuguhkan kedamaian tanpa batasan
dijauhi resah yang mengusik lamunan
Lamjutkan pengembaraanmu
Tinggalkan apa yang belum jadi waktunya
Telisik kebenaran di jalan Nya
Sempurnakan langkah menuju istiqomah

Tuan,
Kau tau bahwa Tuhan maha baik
Hindarkan kita dari prahara yang tak terselidik

Kepadamu Ia tunjukan arah
agar tak terserat di jalan yang salah
Untuk sadarmu yang segera,
Beryukurlah..
Untuk sesalmu yang dulu,
Sudahilah..
Kau hanya perlu hilangkan resah
Di haribaan Tuhan, hidupmu akan terarah
yang raib sekarang
akan terganti di masa mendatang

Tuan,
Kenangan membisik di pagi ini
Tersimpan harap dari pengalaman diri
Ada alunan do'a tersusun diksi
Rangkaianya padu,
Memberi informasi
Bahwa hijrahmu jadi puisi


Purbalingga, 22 Juli 2018

Sabtu, 14 Juli 2018

PUISI balada hati


BALADA HATI
 Prisca Tiara

Aku mengundang gerimis hari ini
Menyapa rindu yang tak tersampaikan
Berteman kalut perasaan
Membawa harap dalam penantian
Mengapa tak kunjung usai?
Tentang rasa yang masih menggantung
Tentang kisah yang masih membekas
Hari-hari ku mati setelah kepergianmu...
Serupa kutukan  membuntuti harap semu
Aku mundur dalam penantian
Bertahan hanya berujung kesedihan
Melebarkan luka dari cerita lama
Terlampaui mengingat tentangmu
Hingga tak terasa, telah datang lagi remang di pagi buta
Aku ingat betul mengenai ikrar-ikrar janji
Namun, bolehkah sekarang aku tertawa?
Meratapi kebodohanku semata
Nyatanya engkau memilih pergi tanpa jejak
Menggantungkan aral beruntut
Semesta tau,
Kita pernah berjalan dibawah rinai hujan kala itu
Menikmati segelintir kebersamaan
Membangun baret-baret mimpi
Untuk hal-hal di kemudian hari
Kita tertawa lepas... tanpa beban
Tetapi pada akhirnya,
Kita terseret pada cinta yang pura-pura
Membuat terseok-seok
Untuk melanjutkan sebuah kisah
Pernah suatu masa
Aku mencoba bertahan
Mengabaikan warasku
Membutakan pandangan mengenai sisi kejammu
Menyengajakan tuli dari hujatan mereka
Sekali lagi...
Apa yang aku lakukan
Dibalas tangisku sehina-hinanya
Menjejalkan rasa sakit dan membekas
Akankah kau tau arti rinduku?
Ketika segenap doa mengalir menyebut namamu
Megagungkan segala kelebihanmu
Aku menahan sepi,bersama sendu yang nyalang
Ini masih tentang nestapa hati ketika bumi  menyediakan tanah, lahan, dan daratan
Sebagai tempat menyerukan laraku
Perihku...
Aku kehilangan daya khayal
Seolah semangat –semangat dipatahkan olehmu
Ah....
Bisakah kita kembali seperti dulu?
Kurasa jawabanya” tidak”
Tetap tidak!
Kalah....
Aku kalah oleh takdirku
Ketetapan tak mengizinkan kita bersatu
Dari patah hati-patah hati yang kulewati
Kecewa-kecewa yang kulalui
Tetap saja, kau tak peduli
Arogan serta ego medominasi hati
Tidak ada secuil pun rasa menghargai
Kini tiba saatnya
Dimana aku melepasmu kepada semesta
Merelakan semua rasa       
Dan membiarkanya maiti bersama sisa-sisa cinta

Purbalinggga, 2017

PUISI PAHLAWAN

 JEJAK JUANG

 Prisca Tiara



Kabut, menebar tanpa perintah
Mendung, awan hitam mengadu pada indra penglihatan
Seketika semesta menjadi saksi setiap laku yang tersaji

Berjuang...

Ia mendongakan kepala
Menerawang dengan jeli musuh di hadapanya
Menembakkan pelor dengan gencar
Sempurna mengenai sasaran
Ciutkan nyali para lawan 

Berjuang...

Luka di badan bukan penghalang
Ia berjalan gontai melawan penjahat negerinya
Menulikan telinga setuli tulinya
Membutakan mata sebuta butanya
Pada sesuatu yang disebut 'menyerah'
Didukung terpaan sejuk, kasih sang bayu
Burung camar pun membisu
Hilang sudah kicauan merdu
Melihat lekat peperangan para serdadu
Di antara lautan manusia yang berseteru

“Ini negeriku, tanahku, panji martabatku!“

Lantang suara menjelma bersama terik surya
Menembus telinga musuh yang berdiri bak penguasa zalim sejati

Ia berlari kembali
Menghunus pedang, tepat di dada lawan
Hilangkan nyawa para pecundang

“Maju... terus maju!”

Titahnya menggelegar sampai ke hati
Seiring derap, lantunan do’a kian menjadi-jadi
Mencium mimpi dalam sekat rindu kemerdekaan

Berjuang...

Arti nyawa bukan lagi perkara
Ia merasa belum apa-apa
Kala harus kembali ke pangkuan Tuhannya
Bijana siapa yang direngkuh dalam pertahanan?
Miliknya, milik kita
"Indonesia" !

Terpejam...
Matahari membungkam cahayanya
Mebimbing rembulan menuju gerbang cakrawala
Di ufuk barat
Terlukis sempurna sisa semburat senja
Menampak pada kanvas langit
Bersamanya, kau lepaskan segala luka
Tiggalkan jejak langkah perjuangan
Terpatri di memori tiap insan yang ditinggalkan

Lewat aksara yang sedikit lapuk tintanya
Terlukis kidung tentangnya yang dikenang
Gugur mulia sebagai pahlawan
Tanpa sungkawa , serakan hidup dan mati untuk negara
Jejakmu abadi,
Perjuanganmu selalu tinggal dalam hati

Puisi bait memori



BAIT MEMORI
Prisca Tiara

Suatu ketika saat langit sore menjamu senja di garbanya
Ada suatu getir yang menyesakan dada
Menyeruak memenuhi seluruh ruang kepala
Mengusik ketenangan lewat rindu-rindu yang menyapa
Tepat di pergantian waktu saat surya terbenam berganti malam
Sang puan terdiam hanyut dalam lamunan akan luasnya ingatan
Di separuh sadar, teringat  kenangan bersama sosok pujaan
Jauh dari jangkauan, hilang dari dekapan
Dulu, masa yang dilewati tak pernah hampa sebab keduanya tertawa lepas di hadapan semesta
Pun tiap jazirah bumi yang di jelajahi bersama selalu menawarkan makna
Menolak pilu, bercengkrama, berbagi canda, hingga menikmati indahnya mega yang menjingga
Menyusun bait memori dari potongan kisah tak terlupa
            “ Hari-hariku patah usai kepergianmu”
Kata sang puan sambil menyeka eluh di pelupuk matanya
Ditatapnya nyalang foto lelaki dalam pelukan
Tak ter asa setahun sudah kekasih puan berpulang ke haribaan Tuhan
 
Purbalingga, 30  Juni 2018

 
ps : puisi ini dibuat untuk seleksi lomba dengan ketentuan yang berlaku. Jadi amatiran bgt deh wkwk
 
Biodata
Nama   : Prisca Tiara
Lahir    : Purbalingga, 26 Mei 2001
Sekolah : SMA N 1 Purbalingga
Agama : Islam
Alamat : Kutawis, rt 01/01 Bukateja, Purbalingga, Jawa Tengah
IG        : @prisca26_
FB       : Prisca Tiara
Email   : priscatiara26@gmail.com

Puisi Lupa


MELUPAKAN LUKA
Prisca Tiara

Di suatu malam yang terbungkus hening
Dingin menjelma, menyentuh luka yang hampir kering
Tiada bising mengusik lamunan seperti hari-hari sebelumnnya
Apa yang ku ingat?
Dalam lamun hampa ada sesuaatu terjerat
Memaksa pikiranku meruntuhkan sebuah sekat
Agar hanyut pada tabiatmu yang sirat
Tentangmu? Tenanglah, aku tak lagi terpikat
Logikaku berjalan lambat saat mencipta daya khayal sosokmu
Aku tak berdaya menepis jarak
Mengikat kenangan dengan simpul kesakitan
Tuan, ingatkah yang dulu kau lakukan?
Mempermainkan perasaan perempuan
Menjebaku pada ketidakadilan dan menjerat dalam ketidakbebasan
Setelah dikekang kisah kepalsuan
Mana mungkin aku menanam harap pada kemustahilan
Kepadamu yang jauh dari genggaman
Hilang tak berkabar meninggalkan penghianatan
Warasku sempat hilang menyadari ketiadaanmu
Namun seiring peradaban waktu,
Sekian lama sejak kepergiamu kala itu
Aku mendadak amnesia
Melupakan segala cinta
Mengabaikan segenap rasa
Menyudahi dendam yang sia-sia
Percayalah, lukaku takan abadi
Lukaku takan bersemayam lebih lama lagi
Detik ini juga, dalam hatiku namamu telah mati
Aku yang membunuhnya
Lalu menguburnya bersama sisa-sisa luka
Kau  memaksaku melupakan kisah yang tak lagi ada
Menyadarkanku jika menangisimu adalah hal tak berguna
Sudahlah!
Aku masih bisa hidup sekalipun ditinggalkan dengan cara kejammu
Akan kuputuskan,
Untuk melupakan luka


 Purbalingga, 13 Juni 2018