Tepat lima belas mei silam
Penantian atas bahagiaku mendadak tenggelam
Hati berkecai selepas mendengar berita duka
Mendung di langit mengundang gerimis sukma
Duniaku hancur,
Dibelasuh nestapa,
Terseok-seok menerima takdir yang ada
Ayahnda, mengapa harus engkau yang merenggang nyawa?
Menutup mata di usia paruh senja
Seluruh bakti telah engkau beri
Segenap ikhlas telah kau bagi tuntas
Pun sedalam cinta telah kau hadirkan dalam gugus-gugus pengorbanan
Namun, terlambat.
Masa-mu telah habis ayah
Bersamaku, semesta menangisi kepergianmu
Sebak tak lagi mampu dibendung
Ingin meronta namun tak punya kuasa
Tetiba …
Minda-ku terguncang
Jarum waktu memutar ulang rentetan kenangan
Memunguti puing-puing rindu pada memori yang sempat kita ciptakan
Ayah,
Bahkan kau belum tepati janji untuk menciumku lagi usai tugasmu
Bahkan kau belum pulang ke rumah untuk menyicip lezat masakan ibu
Belum sempat jua aku meruahkan sedu sedan dalam pagutanmu
Dan saat kau pulang,
Air mata haru untuk penyambutanmu malah berganti air mata pilu
Ter-eja jelas kehancuranku di atas liangmu
Di saksikan keok gagak hitam yang mengudara di langit sayu
Di tonton gugur kelopak bunga kamboja yang melayu
Seluruh tubuhku ngilu…
Menatapi nisan dihadapanku
Menabur bunga tujuh rupa di pusaramu
Ku bebaskan air mata yang menggantung di gerbang mata
(Putri yang malang) kataku, kepadaku
Dengan kelapangan hati, ibu mendekap seraya berucap
“Teguk tangismu, nak. Berbahagialah memiliki ayah seorang pahlawan kesehatan”
Aku kembali dalam getar sadar di kehampaan
Ayah, aku merelakanmu
Meski mahluk kecil bernama corona memisahkan kita
Jasamu akan dikenang dunia
Mulia-mu telah menyelamatkan banyak insan,
Kau gugur sebagai garda depan pejuang kemanusiaan
Selamat jalan, akan ku lihat kau tersenyum di sisi Tuhan