Kamis, 30 November 2023

Tuan, tolong bebaskan aku dari jeruji rindu yang memenjarakan namamu dalam hatiku.

2019

Sedalam apa cinta ranting pada daun, tetap tanah yang berkuasa. Sebab gugur adalah kepastian.

2021
Di selasar waktu, senja dan malam tampak berdebat. Berebut hak tentang siapa yang pantas merangkul rindu di pangkuan sajakmu.

2021
Jangan jadi prosa.
Ia terlalu mudah untuk dibaca
Mata-mata menelanjangi aksara, mencari jantung di setiap baris kata.
Setelah dihancurkan, lalu ditertawakan.
Dan aku tetap menahanmu sebagai rahasia paling utuh
Sementara, waktu mengabadikan tubuhmu hingga terbenam di pikiranku.
Kendati kerap kali merundung dadaku.

Sudah ku coba sembunyi pada tiap-tiap tembok puisi
Namun selalu saja diteroa kata yang tak lekas tersampaikan
Tuhan, Engkau baik kan?
Kau tahu berapa gilanya aku menginginkan dia?
Tolong sampaikan, ya?

2020, 21 Maret
Memang begitu, puan. Wajar.
Mereka minta dimengerti sebab ini dan itu
Tapi mereka tidak mencoba mengerti apa yang aku kerjakan, apa yang kau alami
Juga apa yang kau pikirkan sampai jungkir balik isi jemala
Apa yang kau resahkan sampai selalu mengadu hanya pada bayang

Tak apa, tenanglah.
Tidak semua insan pandai mengerjakan semua hal.
Tidak perlu meminta pada Tuhan untuk diberi dua otak seribu tangan.
Kau saja cukup, untuk segala hal yang kau mampu.
Tak perlu resah, tak perlu resah.

Aku ucap lagi dua bait ini, agar bisa dibaca bilau kau gundah nanti

2019
Barangkali malam ini, 
Renjana dan puisi membentuk kolaborasi paling serasi.
Keduanya membantai sunyi-sunyi yang diperdaya intuisi dalam perjalanan menuju peyakinan hati.

10-10-19
Di pelataran langit, senja sempat menyapa.
'Propaganda rasa', diajaknya manusia memecah arti sebuah enigma.
Kalutlah renjananya,
Kacaulah nalarnya,
Pada akhirnya ia temui siratan makna.
Per-gi, penggalan verba yang benar adanya
Dihadpaan semesta, tersungging senyum paling rekah dari hati paling tabah untum sabar paling indah.

7 Agustus 2019
Kelingking hingga kening menautkan angan dan ingin. Doa-doa terhampar di pekarangan langit.
Dari selatan, dari utara, melangit dan berharap membumi-sanju.

6 Mei 2019

Minggu, 19 November 2023

 

Menyapa Rindu di Ujung Senja

Denting waktu ikuti perjalanan kisah kita

Menjadi saksi nyata, alur sebuah cerita

Tersimpan untuk diusahakan sang pujangga

dalam syair cinta yang mudah dijumpa

Aku hanya seorang perindu

yang bersajak dalam bahasa semu

Mencoba taklukan aral

Bagi orang yang merindu semacamku

 

2019

Nanti juga kau tau

Kalau puisiku sering-sering terbit

sebagai teror malam pukul 12-mu

Dengan rima memburu, dan tanda baca sebagai bara

Aku sedang menjelma menjadi kata-kata dan berteriak;

dalam rongga dadamu


8/2/2019

*terinspirasi dari sebuah puisi yang aku baca di ig

Ada yang ingin aku sampaikan

Sederhana saja,

Tentang ketidakterbatasan syukur yang diuntai lewat tutur

Sebab tuhan teramat baik, memberi kesempatan padaku untuk mengenalmu

Teruntuk kekagumanku perihal tabiatmu

Biarkan itu menjadi bagian dari bahagiaku

Aku tidak pandai dalam melisankan kata

Tapi saat ini, akan kularungkan aksara dengan goresan tinta yang ada

Agar ungkapanku tersampaikan lewat kalimat yang kau baca

"Aku jatuh hati"

dan itu benar adanya

Bagaimana engkau terhadapku, sepenuhnya menjadi hakmu

Aku tidak pernah seberani ini dalam menyampaikan

Namun, akan sayang rasanya apabila rasa sayang tidak disampaikan dengan penyampaian terbaik

Percayalah, tidak pernah ada sendu ketika merekam jejak rupa sosokmu

 

-2018-

 

1903 di Tanah Jawa

Lahir malaikat kecil pengubah nasib bangsa

Memecah sunyi senyap malam gulita

Lewat setitik tangis tergema


Dusun terpencil jadi saksi

Tiap-tiap laku yang tersaji

Hijrahnya dari pinggiran Purworejo,

menuju keramaian kota

Berbekal selaksa haru kenangan

yang mengasuh masa belia di kampung halaman


Netramu jauh lampaui batas pandang

Peka pada pinta para muda, yang mengidam negeri merdeka

Merasuk nada nyalakan gelora

Terjaga sukma ditemani sayup-sayup irama

 Ilmu dan cinta menyatu bertahta

Tertuang dalam gores agung sebuah karya


Bhakti bersarang penuhi rongga dada

Alunan melodi iringi sumpahnya para pemuda

Satukan gema merah putih di jiwa

Tanda setianya untuk nusa

Lagumu pancaran nurani

Pendobrak harap, penyatu perbedaan

Meski tepat di angka 35,

ragamau damai bersemayam di pusara

Penanda usia tak samapai masa senja

Tentangmu abadi,

selalu hidup dalam jiwa-jiwa "Indonesia Raya"

 

-2019-

 

 


 Ada yang hampir binasa

Lebih dari sekedar kalimat tua

Memburu tiap baris kata

Bait puisi mati di pusara logika

Tertambat rasa

Biarkan ia bertahta

Padamu, akhirnya aku menerka

Mengagumi dengan kekaguman paling tabah


Purbalingga, 11/02/2019

Sudah separuh Oktober

Maukah kau mengobrak-abrik isi jemala?

Puan,

Diksi yang kau penjara menuntut kebebsannya

Ayolah. Biarkan ia mengembara!

Jangan mencintai kamus hampa

Renjanamu mungkin lapuk, tapi aksara jangan sampai binasa

Payah sekali berangan jadi pujangga

Jika menulis puisi saja menunggu luka


Jogja, 16 Oktober 2019

Senin, 17 Juli 2023

Air Mata Di Pusaramu

Tepat lima belas mei silam
Penantian atas bahagiaku mendadak tenggelam
Hati berkecai selepas mendengar berita duka
Mendung di langit mengundang gerimis sukma
Duniaku hancur,
Dibelasuh nestapa,
Terseok-seok menerima takdir yang ada
Ayahnda, mengapa harus engkau yang merenggang nyawa?
Menutup mata di usia paruh senja
Seluruh bakti telah engkau beri
Segenap ikhlas telah kau bagi tuntas
Pun sedalam cinta telah kau hadirkan dalam gugus-gugus pengorbanan
Namun, terlambat.
Masa-mu telah habis ayah
Bersamaku, semesta menangisi kepergianmu
Sebak tak lagi mampu dibendung
Ingin meronta namun tak punya kuasa
Tetiba …
Minda-ku terguncang
Jarum waktu memutar ulang rentetan kenangan
Memunguti puing-puing rindu pada memori yang sempat kita ciptakan
Ayah,
Bahkan kau belum tepati janji untuk menciumku lagi usai tugasmu
Bahkan kau belum pulang ke rumah untuk menyicip lezat masakan ibu
Belum sempat jua aku meruahkan sedu sedan dalam pagutanmu
Dan saat kau pulang,
Air mata haru untuk penyambutanmu malah berganti air mata pilu 
Ter-eja jelas kehancuranku di atas liangmu
Di saksikan keok gagak hitam yang mengudara di langit sayu
Di tonton gugur kelopak bunga kamboja yang melayu
Seluruh tubuhku ngilu…
Menatapi nisan dihadapanku
Menabur bunga tujuh rupa di pusaramu
Ku bebaskan air mata yang menggantung di gerbang mata
(Putri yang malang) kataku, kepadaku
Dengan kelapangan hati, ibu mendekap seraya berucap
“Teguk tangismu, nak. Berbahagialah memiliki ayah seorang pahlawan kesehatan”
Aku kembali dalam getar sadar di kehampaan
Ayah, aku merelakanmu
Meski mahluk kecil bernama corona memisahkan kita
Jasamu akan dikenang dunia
Mulia-mu telah menyelamatkan banyak insan,
Kau gugur sebagai garda depan pejuang kemanusiaan
Selamat jalan, akan ku lihat kau tersenyum di sisi Tuhan

Selasa, 10 Agustus 2021

Senarai Nestapa Di Balik Kata Merdeka

Di hamparan ladang yang ditanami benih-benih, peradaban telah menganyam cerita dari 
peluh dan linang air mata
Dalam pagutan waktu, persil demi persil ladang kelapangan dipenuhi doa-doa berdurja 
jenggala
Ku pandang lekat, tenang langit senja dengan bias rona jingga yang meneduhkan
Nanar. Dalam saku celana hanya terhimpun beberapa ribu, meski peluh lama meluruh tak 
terbendungkan
Temaram lampu kota mulai ramai menyala walau jalan lenggang dengan sedikit hiruk-
pikuk manusia
Termangu. Gedung menjulang tinggi menampilkan kemewahan, namun siapa sangka di 
tempat ini segala sendu bermuara
Seakan situasi bak komedi yang bertabuh ironi; lucu meski sebenarnya pilu
Raga mendorong gerobak usang menuju pulang. Beranjak menemukan asa yang masih 
tercecer diantara lipatan rahasia takdirku
Di sepanjang tapak perjalanan, kegelisahan mengkarat dalam pikiran yang sulit dieja
Aku terlahir dari rahim sengsara, tumbuh dari kelayakan yang maya
Getir merengkuh bahagia, menawarkan hidup dengan segala derita
Aku sudah lama memerankan sengsara, berdarah-darah meraup rupiah. Menyentak jerit-
jerit prihatin pun nihil hasilnya
Biarpun tinggal di negeri yang katanya ‘merdeka’
Negeri yang permai dengan kekayaan alamnya
Negeri yang mahsyur dikenal dunia atas keagungannya
Aku sang jelata; rakyat kecil yang terpaksa berjalan di atas dalih keadilan sosial bagi 
seluruh rakyat Indonesia
Ah, hidup rasanya semakin susah saja! Apalagi pandemi masih bertengger di mayapada
Langkah demi langkah terasa berat memasuki rumah. Hey, tapi apa yang kulihat disana?
Dua bocah terlihat nian sumringah di pelataran yang luasnya tak seberapa
Aku mendekat mengujar kalimat sederhana, “Nak, kalian sedang apa?”
Tersenyum tanpa menjawab, tangan-kaki terus bergerak menafsirkan sepotong rasa 
bahagia
Tak ada badai di wajah polos mereka, tak ada kesedihan di manik matanya meski sedang 
terjerembab dalam jurang hidup yang penuh nelangsa
Jari mungil lihai mengikat kerupuk pada talinya. Botol dan pensil yang berbenang pun 
telah di tata. Ada juga balon, pita, dan tak lupa bendera plastik dengan dua warna yang 
sarat makna
Agaknya aku sudah bisa mencerna; perayaan kemerdekaan di tengah keterbatasan.
Dengan semangat 45, terdendang lagu kebangsaan sebelum mereka memulai lomba yang 
dibuatnya sendiri. Nasionalis sekali, pikirku.
Aku menatap kibaran dwiwarna sang panji yang terikat di tiang dekat rumah
Kau salah satu lambang juang juga doa linuhung para leluhur bangsa 
Dimana seharusnya, kemenangan mereka tujuh puluh enam tahun silam diteruskan agar 
damai bersemayam dalam tubuh yang tlah abadi di haribaan Sang Pencipta 
Melupa segala duka, menelan sebongkah kecewa, bukankah hari ini aku harus ikut 
berbahagia?
Tuhan, semoga rahmat kemerdakaan yang kau titipkan pada bangsa kami menjadi 
sebenar-benar makna dari wujud merdeka; bukan sekedar kata belaka
Aku tumpukan hidupku pada kebesaran-Mu. Enyahkanlah nestapa dari pelupuk mata
Dirgahayu Indonesiaku. Sudilah kiranya melimpahruahkan kebebasan, kemakmuran, dan 
kesejahteraan di usiamu yang semakin senja
Lagi-lagi ku temui harapan bersemi. Lagi-lagi ku bangun mimpi kembali. Lagi-lagi ku 
rapalkan doa tiada bertepi. Meruntuhkan kesedihan dari luka-luka yang menganga

Kamis, 24 Juni 2021

Aku, Biarlah Menjadi Aku

Di tepi bengawan duduk seorang puan ditemani kehampaan
Mengelana pikiran pada luasnya rimba ingatan
Puan itu ialah aku, yang terjebak dalam titian mangsa
Kala keping-keping memori silam terputar di jemala

Di ambang kejemuan,
Aku menjadi tawanan zaman
Yang mendekam dalam terungku penghakiman dan tuntutan
Yang tersungkur dalam liang kosong penuh kepura-puraan

Akan ku guratkan pena pada secarik kertas lapuk
Merangkum nestapa yang membuat diri terpuruk
Aku menjelama luka,
Dari lontaran kata-kata yang menusuk minda
Aku menjelma luka,
Dari godam tuntutan yang memaksaku menjadi sempurna

Dalam perenungan, 
Ku biarkan sajak-sajaku mengalirkan air mata
Menerima takdir yang dikandung dalam rahim semesta
Biarlah luruh segenap ketidakberdayaan karsa

Takan ada lagi standarisasi diri
Takan ada lagi tekanan yang menggerus mental 
Takan ada lagi paksaan untuk mengikuti kemauan orang
Aku tlah sampai pada penerimaan

Tiada sesiapa berkuasa terhadapku
Tiada sesiapa memperbudak aku
Akan ku merdekakan diriku sendiri
Akan ku larungkan cinta yang tiada bertepi

Dengan segenggam keyakinan,
Akan kubunuh selaksa ketakutan;
kekhawatiran;
keraguan;
ketidakpercayaan;
serta kebohongan.

Aku berjumawa
Tidak akan memudar dalam gerusan waktu
Siap melangkah meski tak dipapah
Siap maju meski aral mengiringi jalanku
Siap berdiri di atas pijakan sendiri

Biarlah aku menjadi aku
Biarlah aku mengasihi aku

Senin, 21 Juni 2021

Rintihan Bocah Pinggiran

Ibu guru, bukuku lapuk dengan robekan sampul yang makin memburuk
Bapak guru, isi penaku makin terkikis sebab terus kupakai untuk menulis
Tapi pak, bu, guratan aksaraku tidaklah bernyawa, tidak lagi berarti
Aku tetaplah tertinggal materi
Bukan aku tak mau berusaha memahami. Namun sarana belajar tak memadai
Pandemi masih bersarang di rahim semesta
Sekolah-sekolah ditutup semetara. Belajar daring jadi hal yang biasa
Aku terseok dalam langkah penuh nestapa
Pada setumpuk pilu, aku dipaksa menerima takdir yang durjana
Pak guru, bu guru, berikan pemaklumanmu
Aku hanyalah orang tak punya
Emak bapak bermuram durja sebab pekerjaan telah direnggut
Jangankan membeli gawai untuk sekolah,
Mengais sesuap nasi pun susah
Jangankan selalu mengisi kuota,
Membeli sembako saja banting tulang dalam bekerja
Jangankan mengumpulkan tugas tepat waktu,
Saat jaringan hilang, pelajaran pun tertinggal. Ah malangnya aku
Aku yang buta teknologi semakin merintih
Hanya mampu memagut harap pada negeri yang katanya berdalih ‘keadilan’
Apa hak belajar hanya bagi mereka yang berkecukupan?
Apa hak menuntut ilmu hanya berlaku bagi mereka yang tinggal di perkotaan?
Aku dan kaum-kaum sepertiku terlantar di haribaan nasib
Ingin mendapat pendidikan layak saja kesulitan. Inilah potret sekolah virtualnya 
bocah pinggiran!
Menangis tanpa air mata, menjerit tanpa suara.
Duhai para petinggi negara,
Semoga doaku pada Tuhanku sampai padamu
Semoga rintihanku terdengar olehmu
Semoga aku bisa belajar, dengan penunjang yang mestinya
Ku larungkan amiin pada akhir doa ini.

Elegi Sekuntum Mawar

Setangkai mawar dalam bejana mungil ini raib harumnya
Kelopak kembang mulai layu, bersama gugur daun sebagai isyarat duka
Rona merahnya memudar seiring hilang karsa
Duri-duri menancapkan luka pada kenangan yang memuar di jemala

Tuan, ingatkah kau pada bunga pemberianmu?
Yang mengering dalam sapuan waktu
Yang masih aku jaga dalam dekapan pilu
Meski elegansi tak lagi ada, namun memori pada kuntumnya masih terpaku

Aku membuka netra, menyeka air mata yang menghujani kemarau rindu
Menyadari kenyataan bahwa kau tak lagi bersamaku
Kalut. Aku memapah jiwa yang kesakitan akan sebuah perpisahan
Menegarkan diri biarpun harus terseok-seok dalam langkah kejemuan

Sepi melenggang pada tumpuk kegusaran
Kepergian membawa ingatan pada luasnya kenangan
Kini kau jauh dari rengkuhan
Hati hancur berkecai, terbata membaca sajak-sajak kepedihan

Tuan, selaksa harap masih ku tautkan padamu
Meski kebenaranya, aku dipaksa tunduk pada kuasa waktu
Dipaksa menyerah dihadapan kenyataan
Biar saja, aku moksa dalam penantian

Sekalipun aral menemani perjalanan,
Sekalipun jelaga mewarnai pengelanaan,
Sampai kini masih namamu yang menjadi tujuan
Sampai kini masih padamu cinta kularungkan

Kini, jarak kita tak lagi bisa di tepis
Mawarku biarlah melayu sampai habis seluruh tangis
Kini, kau aksa dari saujana
Berlalu meninggalkan nestapa

Luka sekuntum mawar masih menganga
Menyisakan sendu yang menyeruak di halaman dada
Berbahagialah sayang. Jangan risau, merawat kesedihan biar jadi bagianku
Aku, melepasmu.