Sabtu, 24 April 2021

Biarkan Suaraku Mengudara

Di hadapan sajak-sajak,
Biar kubaca diksi tanpa tergagap
Berteriak lantang melawan ketidakadilan
Berdiri tegak pada sebaris kalimat perlawanan
Oh ibu, Pada siapa lagi aku harus mengadu?
Dunia telah mengguratku dengan banyak tuntutan
Terseok-seok langkah menuju perubahan

Mengapa? 
Pada tiap laku, ada bisik mengusik ketenangan
Pada tiap penampilan, mata-mata menelisik, 
mulut-mulut berkomentar
Pada tiap pekerjaan, pilihan, keputusan selalu dipertanyakan bahkan ditentang

Kami lapuk sebab kebebasan telah direnggut
Katanya emansipasi? Tapi hak perempuan selalu dibatasi
Puan dituntut, diatur, dikonstruksi
Berdaulat atas diri sendiri hanyalah mimpi
Kaumku dihunus penghakiman masyarakat, adat, dan stigma yang melekat

Oh ibu,
Dibawah naungan langitmu
Biar kubangkitkan jiwa yang merindui kemerdekaan
Melarungkan pengharapan atas kesetaraan
Memanjatkan doa-doa untuk sebuah kekuatan
Akan kutagih titah emansipasi,
yang diperjuangkan Kartini

Biarkan suaraku mengudara!
Menyeruak memenuhi seluruh semesta
Menggema, dan terus menggema 
Membebaskan jeratan,
duka,
air mata

Suara-suara yang selama ini dibungkam
Aturan-aturan yang terus dilekatkan
Mental-mental yang selalu dihancurkan
Cukupkan!
Raibkan!
Jangan gantungkan nasib perempuan pada garba kesengsaraan
Dara biarlah menjadi dara
Sebab kami lebih dari sekedar kata

"Biarkan daku berpijak di tanah kebebasan,
tanpa dibungkam"

Minggu, 11 April 2021

Sang Surya Dari Tanah Jepara

141 Tahun lalu, tepat 21 April di tanah Jepara
Lahir sesosok putri pengubah nasib bangsa
Namanya termaktub dalam banyak narasi
Kisahnya tertuang dalam lembar-lembar sejarah negeri
Netramu nyalang, memunguti puing-puing mimpi
Menyiar kobar semangat 'emansipasi'
Lantang suara memecah jerat penderitaan!
"Akulah sari darah perjuangan penembus peluru"
Membungkam selaksa bentuk penindasan 
Menyiram haus kaum-kaum yang merindui kebebasan
Mengantar para dara menuju garba kebangkitan

Kartini menjelma 'matahari'
Seberlalu kau sibak gelap yang memenjarai kaum-mu
Terang lalu kau suguhkan diantara tatap semesta
.
Kau bakar malam yang suram
Kau pecah kebisuan aksara
Kau kubur batas-batas sunyi
Kau perangi kuasa tirani
Kau tabur cinta ditanah pertiwi -Habis gelap terbitlah terang-
Dari rahimmu terlahir harapan nyata
Kala surat-surat kecil milikmu mampu menyusui tunas-tunas muda wanita Indonesia

Tuhan, kau lukis dengan sempurna 
Sang surya, maha putri bangsa
Wanita tangguh berparas jelita

Meski tak mencicip usia senja
Meski ragamu telah damai bersemayam di pusara
Namun cita-citanya abadi
Pengorbananya terpatri
Peradaban baru ialah bukti,
Kartini,
Sang putri sejati.