Di hadapan sajak-sajak,
Biar kubaca diksi tanpa tergagap
Berteriak lantang melawan ketidakadilan
Berdiri tegak pada sebaris kalimat perlawanan
Oh ibu, Pada siapa lagi aku harus mengadu?
Dunia telah mengguratku dengan banyak tuntutan
Terseok-seok langkah menuju perubahan
Mengapa?
Pada tiap laku, ada bisik mengusik ketenangan
Pada tiap penampilan, mata-mata menelisik,
mulut-mulut berkomentar
Pada tiap pekerjaan, pilihan, keputusan selalu dipertanyakan bahkan ditentang
Kami lapuk sebab kebebasan telah direnggut
Katanya emansipasi? Tapi hak perempuan selalu dibatasi
Puan dituntut, diatur, dikonstruksi
Berdaulat atas diri sendiri hanyalah mimpi
Kaumku dihunus penghakiman masyarakat, adat, dan stigma yang melekat
Oh ibu,
Dibawah naungan langitmu
Biar kubangkitkan jiwa yang merindui kemerdekaan
Melarungkan pengharapan atas kesetaraan
Memanjatkan doa-doa untuk sebuah kekuatan
Akan kutagih titah emansipasi,
yang diperjuangkan Kartini
Biarkan suaraku mengudara!
Menyeruak memenuhi seluruh semesta
Menggema, dan terus menggema
Membebaskan jeratan,
duka,
air mata
Suara-suara yang selama ini dibungkam
Aturan-aturan yang terus dilekatkan
Mental-mental yang selalu dihancurkan
Cukupkan!
Raibkan!
Jangan gantungkan nasib perempuan pada garba kesengsaraan
Dara biarlah menjadi dara
Sebab kami lebih dari sekedar kata
"Biarkan daku berpijak di tanah kebebasan,
tanpa dibungkam"