PPA GASDA ( Perhimpunan pegiat alam ganesha muda ) merupakan sebuah organisasi pecinta alam yang berdiri pada 29 Mei 1987 di SMA N 1 PURBALINGGA dengan ketua umumnya Kang Edwing, dan ketua komesariatnya adalah Anggun M.
Untuk menjadi anggota gasda,ada beberapa tahapan yang harus dijalani. Mulai dari CAANG (calon anggota), AP (anggota pratama), AM (anggota muda) dan Angota penuh.
Pada tanggal 19-26 Desember 2016, saya mengikuti DIKLATSAR AM PPA GASDA Ke-30 bersama dengan 25 orang siswa lainya. Saya sendiri adalah siswa dengan no.topi 19. Dalam diksar ini ada divisi pendidikan yang dipimpin oleh komandan pendidikan dan pelatihan yang membawahi dua divisi yaitu pelatih dan tasis/kesiswaan. Diksar ke 30 ini dipegang oleh kang Firdaus.Kegiatan ini diawali dari diklat ruang selama tiga hari,malam karantina,dan puncaknya adalah diklat lapangan. Sebelumnya sudah diadakan pertemua wajib selama 5 kali.
Pada hari pertama diklat ruang kami berkumpul pukul 9.00 di sekolah. Lalu satu jam setelahnya diadakan upacara pembukaan . Kami menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Mars gasda. Pembina upacara lalu menancapkan senjata sebagai tanda resmi dibukanya acara tersebut. Sebagai simbolis,dua orang perwakilan siswa yaitu Iqbal Hambali dan Wulan Ratna S. maju untuk mengganti syal gasda dengan topi lapangan. Seusai upacara,diberikan materi ertama yaitu PBB dan Bela Negara. Ketika materi PBB ( peraturan baris berbaris ) kami mempraktekanya langsung. sekitar satu jam,beralih ke materi Bela Negara yang di isi oleh personil dari Kodim Purbalingga. Saat tiba waktu sholat,kami dipersilahkan untuk menunaikan ibadah sholat dhuhur. Setelahnya, Tasis memberikan intruksi untuk makan siang dengan bekal yang kami bawa sendiri dari rumah. Kami duduk sesuai dengan kelompok masing-masing, dan membagi rata lauknya kepada semua anggota kelompok. Pada makan siang pertama diklat ruang, G-30 melakukan kecerobohan yang membuat Tasis menjadi sedikit marah dengan kami. Pasalnya,tidak ada yang memimpin doa untuk makan,karna setiap anak sudah berdoa sendiri dan langsung memakan bekal nya. Padahal kami diminta untuk memulai makan dan selesai memakan secara bersama-sama. Tak hanya itu, diantara kami tidak ada yang menawarkan untuk makan kepada yang lebih tua,sementara hal tersebut menjadi tradisi di gasda . Semua hanya terdiam saat teguran diutarakan kepada kami.
Seusai makan,aku dan teman yang lain diajarkan bermain "langit-bumi" oleh para tasis,guna menetralkan suasana ketegangan yang melanda kami. Singkat waktu, materi diklat dilanjutkan oleh Pelatih Sahal yang menyinggung mengenai Bivak/tempat berlindung. Banyak ilmu yang aku dapat dari penjelasan tersebut. Setelah berakhirnya materi,kami pun diperintahkan oleh pelatih untuk melakukan latihan fisik. Sekitar pukul 16.30 WIB kegiatan diklat ruang hari pertama pun diakhiri.
Pasa 20 Desember,aku ikuti diklat ruang kedua. Tentunya dengan waktu yang sama seperti hari pertama. Diklat ruang kedua ini,kami dibekali materi mengenai Navigasi darat ( navrat ) . Pengisi materi, tanpa sungkan mempersilahkan siswa untuk bertanya, apabila materi yang disampaikan kurang dimengerti . Setelah sesi sholat dhuhur dan makan siang, siswa langsung praktek materi navrat yang telah diberikan. Aku dan yang lain diminta untuk mempraktekan resection dan intersection. Kegiatan ini berlangsung sekitar dua jam. Seperti biasa,seusai materi diadakan latihan fisik rutin. Di hari kedua, banyak yang jatuh sakit ketika latihan fisik. Usai latihan fisik,kami dihadapkan dengan Tatib (ketertiban) yang tentunya memberikan hukuman atas kesalahan serta ketidaktertiban siswa selama kegiatan berlangsung. Seperti biasa,setelah acara ditutup oleh Tasis,kami pun pulang kerumah masing-masing.
Tiba di hari ketiga, hari terakhir diadakan diklat ruang. Kami awali kegiatan hari itu dengan materi 'packing' yang di isi oleh pelatih Anggun dan pelatih Dika,serta di dampingi oleh pelatih Lelyana,tatib yolan,dan tatib angga.
materi ini sangat penting bagi kami yang akan melakukan perjalan jauh. Penataan barang didalam tas,perlindungan barang yang dibawa,serta menjaga kenyamanan tas yang dipakai . Seingatku,setelah semua kelompok praktek packing,kami di instruksikan ke tempat parkir dan mendapat materi pertolongan pertama dan pembidaian oleh pelatih. Ini cukup menyenangkan bagiku,karena ilmuku di bidang kesehatan sangatlah kurang. Kami diberi serangkaian penjelasan dalam menangani korban patah tulang. kala itu, kelompoku mendapat bagian mempraktekan pembidaian patah tulang pergelangan tangan.
Saat selesai praktek pertolongan pertama,tiba saatnya kami makan siang,tetapi bedanya makan siang kali ini kami masak sendiri. Setelah mempersiapkan bahan dan alat masakan,semua bergegas untuk membuat makan siang. Dalam waktu yang terbilang singkat,memaksa kami untuk sigap dalam memasak. Waktu 30 menit kami gunakan dengan baik sampai makanan yang dimasak terhidang dengan rapi dan siap dibagikan .
Ketika memasak ,siswa terus dipantau oleh pelatih,tasis,dan tatib. Berbagai peringatan diberikan kepada siswa,guna menghindari kesalahan yang berarti. Namun saat itu,beberapa kesalahan tetaplah terukir. Misalnya kelompok satu yang entah karna apa ,api nya menjadi membesar dan membuat mereka histeris. Lalu,ada salah satu kelomopok juga yang tidak membawa spirtus untuk bahan bakar,ada kelomopok yang kekurangan bumbu,dan ya!kelompok dua. Kelompoku sendiri,kurang berhati hati saat memadamkan api,hingga spirtus tumpah dan menyebabkan pelatuh turun tangan untuk membantu kami. Selesai sudah perihal tadi,ketika kami selesai makan dan bersiap untuk latihan fisik. Bagiku pribadi,ku bilang ini adalah latihan yang 'cukup' melelahkan. Bukan hanya fisik yang di peras,namun mental kami juga dihantam habis habisan. Banyak Tatib yang mengelilingi kami,menguak kesalahan yang dilakukan kami.teriakan demi teriakan saling bersahut,terlebih tangan sebagian siswa yang terasa 'ngilu' akibat push up di lapangan basket yang kala itu panasnya luar biasa, membuat kami hanya terdiam menelaah perkataan yang dilontarkan oleh Tatib. Satu persatu,hukuman di berikan kepada kami semua. Dalam hitungan waktu,akhirnya kami pun pulang setelah menjalani Tiga hari diksar ruang yang cukup menguras tenaga.
Kamis,22 Desember tidak ada kegiatan yang berlangsung . Semua siswa dipersilahkan ber-istirahat yang cukup untuk menghadapi diklat lapangan.
Jumat,23 Desember tepat pukul 13.00 WIB, kami berkumpul kembali di SMA N 1 Purbalingga,dengan menggendong kerir yang berisi barang baeang untuk diksar.
Aku akui,semuanya di mulai pada hari ini. Berjuang untuk menjadi Anggota Muda!
Sayangnya,hari menuju malam karantina tersebut kurang berjalan baik. Masih ada siswa yang terlambat hadir sehingga harus menerima porsi dari tatib. Ketika pelatih masuk ruangan,kami diminta untuk segera ke tempat parkiran dengan membawa tas . Disana semua kelengkapan alat diperiksa,tentunya juga 'penyitaan' barang yang tidak seharusnya di bawa. Sedikit terkejut mungkin,saat pelatih menyuruh kami untuk push up dengan menggendong kerir yang bebanya +/- 10 kg. Selesai pengecekan logistik, tentu diadakan latihan fisik lagi. Kali ini,sembari menyanyikan mars gasda,membuat semangat tumbuh di diri kami. Sekitar pukul 16.15 di adakan test materi untuk mengukur pengetahuan kami selama dibekali materi gasda.
Selesai sholat maghrib,kami memasak untuk makan malam. Ketegangan kembali terulang disini. Yang ku ingat, saat itu kami di berikan banyak komentar dan ditawarkan push up sampai ratusan porsi. Bayangkan saja,satu porsi push up bernilai 15 kali push up,dan itu dikalikan ratusan porsi.
Tak berhenti disitu,selesai makan dan sholat isya,kami dikumpulkan dan diberi konsekuensi. Oh iya,sebelumnya kami mengadakan kontrak belajar bersama Kang Fahmi dalam menempuh longmarc esok hari. Dari jam 21.00-23.00 siswa diksar AM berhadapan dengan tatib masing-masing. Diberikan hukuman atas semua kecerobohan dan kesalahan kami. Sunyi nya malam,membuat gertakan suara-suara yang saling berucap begitu jelas di dengar,menggema begitu keras begitu tegas. Setelah berhadapan dengan tatib,tasis mengambil alih tugasnya dan berkonsultasi dengan siswa. Saat itu,kami hanya diberi 1 gelas aqua dan diminum untuk kelompok yang anggotanya 3-4 orang. Bayangkan saja :)
Kami diberi kesempatan untuk tidur,tetapi aku sendiri masih sibuk memindahkan barang dari tas ku ke tas yang lain. Semua terlelap, hingga pada pukul 03.00 pagi dibangunkan dan langsung menjalani latihan fisik sampai subuh tiba. Setelah sholat,kami membuat sarapan pagi. Sekitar pukul 06 lebih sekian menit,upacara diklat lapangan dimulai. Tepat pukul 06.30 WIB, kami naik bis ke sebuah desa di kutasari (desa candiwulan-pratin,Serang)
Setelah selesai,kami semua sudah utuh ber-25 orang. Tetapi lagi-lagi, siswa yang kesakitan bertambah banyak. Termasuk diriku sendiri. Saat sedang berdiri menggendong kerir,tubuhku roboh begitu saja ke tanah. Yang aku rasakan saat itu adalah semua anggota tubuh dari kepala sampai kaki bergetar hebat,dilanjutkan dengan kram yang begitu hebat seolah tidak bisa digerakan. Aku menangis untuk ke dua dan terakhir kali. Tubuhku yang tak bisa digerakan sama sekali,langsung dipijat dan diurut oleh para Tasis. Sejujurnya,aku sedikit kesal dengan keadaanku yang tiba tiba seperti itu. Kupikir,dengan jatuhnya aku justru menambah beban saudara saudara yang lain. Keadaan mereka yang kacau belum sepenuhnya teratasi,dan kenapa aku harus ikut sakit?. Sungguh sangat tidak kuharapkan hal itu terjadi. Tetapi aku sendiri tidak memiliki daya. Beberapa saat setelahnya,aku berusaha sekuat tenaga untuk bangkit. Tak peduli meski harus berteriak tidak jelas,meronta,bahkan terdsedu-sedu sekalipun,yang aku inginkan hanyalah bisa berdiri dan melanjutkan perjalan yang terus menanjak,rasanya begitu lelah untuk dilewati. Tetapi dengan niat dan usaha,akhirnya kami sampai di camp 1 pada pukul 20.00 WIB,tentunya dalam keadaan basah kuyup karena guyuran hujan. Kami langsung membuat bivak dan memasak untuk makan malam. Percayalah,dengan sop dan teh hangat begitu terasa nikmat setelah seharian melewati perjalanan yang penuh tantangan.
Setelah makan,diadakan evaluasi untuk diklat lapangan hari pertama. Tentu kami mendapat marah dari pelatih,sebab terlambat 4 jam dari waktu yang disepakati untuk sampai camp. Pada Minggu,25 Desember pukul 03.00 kami dibangunkan untuk menunaikan sholat tahajud. Dibiarkan bersujud di sepertiga malamNya guna memanjatkan syukur yang tiada henti.sekalipun berkalut dalam dingin malam yang begitu menusuk. Sampai subuh selesai kami tunaikan. Setelahnya,kami di perintah untuk mengemasi barang dan bersiap menuju camp 2. Pukul 05.00 diadakan latihan fisik bersama pelatih. Seusai latihan,pelatih memberi perintah agar kami menyerahkan semua bahan makanan,dan di beri waktu untuk mencari makanan di hutan. Yap,karena agenda pasa diklat lapangan hari ke dua adalah 'survival' atau bertahan hidup di alam bebas dengan bekal seadanya. Cukup unik,ketika temanku menemukan tanaman yang asing bagiku,yaitu 'begonia'. Merasa cukup dengan bekal hayati dan hewani yang kami dapat,semua kembali ke camp 1 dan mulai memasak disana. Sungguh pengalaman pertama untuku memakan pakis yang disayur hanya dengan taburan garam sebagai bumbunya.Namun,demi mendapatkan energi untuk perjalanan berikutnya ,kupaksakan makanan itu masuk.
Setelahnya,kami mendapat materi yang cukup 'mengerikan' bagi diriku sendiri. NUANSA ULAR!!. Bagaimana tidak mengerikan bagi orang yang takut ular sepertiku? Ya meskipun belum sampai tahap phobia,tetap saja aku bergidik ngeri melihat hewan melata itu. Kala tiba giliranku untuk memegang, tegang benar-benar ku rasakan. Tetapi karena paksaan yang terus diberikan, akhirnya kutepis segala rasa takutku.meberanikan diri memegang tubuh hewan itu . Pasalnya,aku ragu tetapi setelah ular itu tidak memberikan reaksi berbahaya akhirnya aku malah nyaman memegang ular tersebut. Ternyata tak semengerikan Yang aku bayangkan. Pelatih juga memberitahu bagaimana cara menangkap sampai mengolaj daging ular {Eits,tetapi ular adalah hewan haram. Tidak boleh dimakan kecuali dalam keadaan terdesak tanpa makanan} . Selesai nuansa ular,siswa dikumpulkan dan dibagi menjadi 3 kelompok besar. Mendapat pengarahan mengenai NAVRAT dan SAR yang harus dilakukan. Ketia praktek navrat,kami tidak mengalami kesulitan berarti. Namun saat SAR , Kami kesulitan dalam menemukan korban. Berjam-jam tetap saja tidak ada tanda korban ditemukan. Hingga akhirnya,pelatih geram dan mengizinkan kami untuk minum secukupnya dengan syarat tidak ada siswa yang mengeluh. Setelah itu pelatih memberi tau keberadaan korban. Dengan segera kami membagi tugas saat korban ditemukan. Ada yang membuat tandu,ada yang membidai dan ada yang mencatat identitas korban. Kami kewalahan saat hendak mengevakuasi korban hujan yang deras dan medan yang tidak rata menyulitkan perjalanan ini. Sampai di tempat evakuasi,siswa dimarahi pelatih karena dianggap tidak sigap dan dapat mengancam nyawa korban. Hukuman porsi dan jongkok berdiri pun diberikan . Setelahnya kami sholat ashar dan lanjut menhju camp 2. Hujan sangat tidak bersahabat. Terus mengguyur kami dan dinginya terasa menusuk sampai ke tulangku. Saat di camp 2, aku bergerak kesana kemari guna menghalau rasa dingin yang kualami. Tak lupa segelas air hangat juga aku minum.tapi tetap saja,berjam jam lamanya aku terus menggigil. Aku genggam tangan siapapun yang ada didekatku. Saat itu aku pikir 'hipotermia' menyerangku. Katakanlah asumsiku gila,namun faktanya aku ditaklukan oleh rasa dingin itu. Saat malam,ada lagi evaluasi dari pelatih. Jelas kesalahan kami dibahas terang-terangan.mala kedua sekaligus malam terakhir ini,siswa dihukum sejadi-jadinya. Sempat terkejut ketika mendengar penuturan bahwa diksar akan ditambah satu hari lagi,padahal persediaan air dan bahan bakar sangatlah menipis. Tapi ku "Iya" kan saja. Kami tidur jam 23.00 dan dibangunkan jam 03.00 untuk bertahajud. Semua hanyut dalam pikiran dan doa masing-masing.
Shubuh datang,kami sholat berjamaah. Usai sholat,kami langsung diintruksikan untuk mengemas barang. Berbeda pada hari sebelumnya,dimana setelah subuh,kami harus berikrar untuk loyal terhadap Gasda. Pukul 05.10 diadakan latihan fisik sebelum melakukan penyebrangan basah.Senin,26 Desember siswa bergiliran menyebrang basah. Dimulairapeling dari jembatan Dan turun ke sungai dibawah. Butuh semangat,kekuatan,dan kesabaran untuk menjalani ini. Siswa harus renang melawan arus sambil membawa kerir ,melewati batu licin di sungai,sesekali mendapat perkataan sinis dari panitia di sekitar sungai. Puncaknya,kami harus berenang di sungai dengan kedalaman 6 meter. Saat sampai di atas, siswa diharuskan untuk berendam dan membersihkan diri,lalu menghadap tasis. Aku dan teman di depanku yang sudah memegang panji gasda,diberi banyak nasihat. Kami pun dipersilahkan duduk bersama teman yang sudah sampai lebih dahulu. Ketika berkumpul,kami hanyut dalam cerita hingga tanpa sadar,suara tawa memecah dan membuat kami dihukum push up serta tidak boleh duduk lagi.Saat 25 siswa sudah terkumpul, kami naik ke jalan diatas sungai.
Disana kami dihentikan dan bagai disambar petir,pihak tatib berkata bahwa akan dilakukan longmarc lagi ke goa lawa,selain itu angkatan 30 tidak layak serta tidak berhak untuk dilantik. Tangis langsung berhamburan. Permohonan terus diajukan kepada tatib . Akhirnya kami digiring unuk berjalan lagi. di halaman sebuah rumah,diumumkan bahwa kami layak dan akan dilantik. Seketika itu teriakan "ganesha muda" saling bersahutan. Aku cukup terkesima dengan penyambutan kami. Panitia baris beriringan sepanjang jalan. Asap warna warni memenuhi sekitar kami.teriakan penyemangat terus diberikan. Hingga sampailah di balai desa serang yang sudah dipenuhi orang tua siswa dan senior gasda dari angkatan sebelumnya.
Upacara dijalani dengan khidmat,hingga satu persatu nama terlantik.
Ketika giliranku maju,panitia membawa nampan berisi syal AM PPA-GASDA dan ibuku mengikatkanya dileherku.
Ku tatap dengan lekat maniak hitam itu dalam pandang yang saling bertemu. Seketika tangisku meluncur tanpa aba-aba. Terlebih iringan Hymne gasda yang syahdu membuat rasa haru menguasaiku. Dalam hati ku ucap syukur tiada henti.Selesai upacara,diadakan foto bersama dan anggota muda makan bakso bersama. Lalu mengutarakan kesan pesan mengikuti diksar .sekitar pukul 13.00 kami pulang kerumah masing-masing.
satu pemikiran yang aku dapat " Mengeluh adalah hambatan besar dalam Berjuang. Lelah adalah bagian kecil dari sebuah perjuangan. Menyerah tidak akan membawa pada kemenangan,dan kebanggan suatu keberhasilan sudah kami buktikan lewat Diksar AM 30 ini"






