Setangkai mawar dalam bejana mungil ini raib harumnya
Kelopak kembang mulai layu, bersama gugur daun sebagai isyarat duka
Rona merahnya memudar seiring hilang karsa
Duri-duri menancapkan luka pada kenangan yang memuar di jemala
Tuan, ingatkah kau pada bunga pemberianmu?
Yang mengering dalam sapuan waktu
Yang masih aku jaga dalam dekapan pilu
Meski elegansi tak lagi ada, namun memori pada kuntumnya masih terpaku
Aku membuka netra, menyeka air mata yang menghujani kemarau rindu
Menyadari kenyataan bahwa kau tak lagi bersamaku
Kalut. Aku memapah jiwa yang kesakitan akan sebuah perpisahan
Menegarkan diri biarpun harus terseok-seok dalam langkah kejemuan
Sepi melenggang pada tumpuk kegusaran
Kepergian membawa ingatan pada luasnya kenangan
Kini kau jauh dari rengkuhan
Hati hancur berkecai, terbata membaca sajak-sajak kepedihan
Tuan, selaksa harap masih ku tautkan padamu
Meski kebenaranya, aku dipaksa tunduk pada kuasa waktu
Dipaksa menyerah dihadapan kenyataan
Biar saja, aku moksa dalam penantian
Sekalipun aral menemani perjalanan,
Sekalipun jelaga mewarnai pengelanaan,
Sampai kini masih namamu yang menjadi tujuan
Sampai kini masih padamu cinta kularungkan
Kini, jarak kita tak lagi bisa di tepis
Mawarku biarlah melayu sampai habis seluruh tangis
Kini, kau aksa dari saujana
Berlalu meninggalkan nestapa
Luka sekuntum mawar masih menganga
Menyisakan sendu yang menyeruak di halaman dada
Berbahagialah sayang. Jangan risau, merawat kesedihan biar jadi bagianku
Aku, melepasmu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar