Senin, 21 Juni 2021

Rintihan Bocah Pinggiran

Ibu guru, bukuku lapuk dengan robekan sampul yang makin memburuk
Bapak guru, isi penaku makin terkikis sebab terus kupakai untuk menulis
Tapi pak, bu, guratan aksaraku tidaklah bernyawa, tidak lagi berarti
Aku tetaplah tertinggal materi
Bukan aku tak mau berusaha memahami. Namun sarana belajar tak memadai
Pandemi masih bersarang di rahim semesta
Sekolah-sekolah ditutup semetara. Belajar daring jadi hal yang biasa
Aku terseok dalam langkah penuh nestapa
Pada setumpuk pilu, aku dipaksa menerima takdir yang durjana
Pak guru, bu guru, berikan pemaklumanmu
Aku hanyalah orang tak punya
Emak bapak bermuram durja sebab pekerjaan telah direnggut
Jangankan membeli gawai untuk sekolah,
Mengais sesuap nasi pun susah
Jangankan selalu mengisi kuota,
Membeli sembako saja banting tulang dalam bekerja
Jangankan mengumpulkan tugas tepat waktu,
Saat jaringan hilang, pelajaran pun tertinggal. Ah malangnya aku
Aku yang buta teknologi semakin merintih
Hanya mampu memagut harap pada negeri yang katanya berdalih ‘keadilan’
Apa hak belajar hanya bagi mereka yang berkecukupan?
Apa hak menuntut ilmu hanya berlaku bagi mereka yang tinggal di perkotaan?
Aku dan kaum-kaum sepertiku terlantar di haribaan nasib
Ingin mendapat pendidikan layak saja kesulitan. Inilah potret sekolah virtualnya 
bocah pinggiran!
Menangis tanpa air mata, menjerit tanpa suara.
Duhai para petinggi negara,
Semoga doaku pada Tuhanku sampai padamu
Semoga rintihanku terdengar olehmu
Semoga aku bisa belajar, dengan penunjang yang mestinya
Ku larungkan amiin pada akhir doa ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar