Rabu, 19 Mei 2021

Puisi Romansa

Kisah Paruh Senja
Mengobrak-abrik isi jemala, tangan seorang lelaki tertuntun mencipta karya
Diksi yang terpenjara menuntut kebebasan-nya
Kata-kata berpadu padan menyusun kalimat bernyawa 
Aksara terlepas liar dari rima-rima yang mengikat
Langit menjamu senja di pelataran,
Bersamanya tersaji kidung persembahan tuan untuk sang pujaan
Jingga cakrawala membersamai dua hati penikmat suasana senja 
Elegensinya terekam mata, mendominasi isi kepala lalu merasuk dalam rongga dada
Ditemani nyanyian alam, keduanya duduk bersanding di sisi telaga
Sapaan ranting, bisikan rumput, deruan air, hembusan angin,
 pun guguran daun-daun di tanah, ialah wujud analogi lepasnya luka-luka menganga 
Perihal ketidakberdayaan mewujudkan temu 
sebab terhalang jarak
terhalang waktu
Perlahan terbaca sajak bertajuk renjana
Membungkam nestapanya jiwa-jiwa penuh rindu pada pertemuan sore kala itu
Merdekalah rasa!
Mengembarakan cinta lewat bait-bait puisi yang terbaca
Meski suasana sore perlahan memudar 
Sepasang kekasih itu tetap menikmati cengkrama
Berdialog mesra menyaksikan surya melambai ke arah mereka
Bagi mereka, pamit senja tidaklah durjana.
 Terucap kalimat sakral penuh keromantisan dari sang tuan:
“ Lihatlah, matahari terbenam. Namun pendarnya  membias indah di netramu, kasih. Dan aku rela terjebak di dalamnya” 
Senyum merekah di wajah sang dara
Aura cinta semerah lembayung senja
Ketika sepasang hati bertemu
Waktu menjelma sebagai masa depan 
Membunuh kelam yang durhaka kepada silam
Ketika dua insan saling berpelukan,
Angin yang dingin memilih berumah dalam kehangatan
Senja tenggelam sempurna
Diloloskanya  hening pada gulita malam, 
agar tak mencederai nikmat perjumpaan para  hamba cinta
Ketika sekecup bibir mendarat di halaman kening,
Ada getar bernada
Arteri mengalirkan darah yang berbaur dengan rasa bahagia 
Meski pertemuan mereka seusia paruh senja
Meski cerita tertulis dalam hitungan jam saja
Kebersamaan dua insan melahirkan mimpi dan harapan nyata
Tiada  kuasa membilang selaksa syukur dihadapan semesta
Puan disana menyandar di bahu lelaki terkasihnya
Ia berkata:
“ Waktu begitu ramah pada kisah ini” 
Kata dibalas kata
Lelakinya berujar, “ Kau tak luput. Memang Tuhan mencintai cinta kita”
Rambut panjang nan hitam legam milik puan diusap halus 
Direngkunya ia kedalam pelukan
Rasa nyaman bernaung dalam kesungguhan
Tanpa terjebak oleh cinta yang pura-pura
Tanpa terseok-seok dalam kisah maya
Oh, 
Cinta benar-benar terpatri
Pada rahim semesta, perjalanan menuju malam telah menjadi saksi
“ Sudah petang, apa kau ingin pulang ?” Tanya sang puan dengan  sedikit rona kalut di wajahnya,
Agaknya ia cemas dengan jawaban “iya”
“Aku  tak ingin pulang.  Aku  ingin mengutuhkan kebersamaan ini hanya denganmu”  
Balas sang tuan
AMIIN,
Batin keduanya,
Sambil memejam mata.
Harapan melambung tinggi
Doa-doa kian menjadi-jadi
Segenap cinta memenuhi isi hati
Kisah paruh senja mengantarkan dua hati menuju roman abadi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar