Senin, 31 Mei 2021

Gusti, Aku Bisa Apa?

Wabah dunia tak bisa di terka
Luluh lantah semesta dibuatnya
Covid-19 ?
Begitulah orang-orang menyebutnya
Sekejap masa menelan ratusan ribu nyawa
Program pencegahan digencarkan sani-sini
Mulai di desa, kota, sampai luar negeri
Mari menilik keadaan sekeliling kita
Siapa yang paling hancur?
Kau? Aku? Kita? 
Negara, aspek hidup, atau tatanan sistem sekalipun?
Waktu bergulir.
Sepi senyap yang sempat terasa, agaknya mulai berkahir
Yang mengurung diri mulai bepergian
Yang mulanya tunduk mulai tak patuh arahan
Yang ketakutan mulai menghiraukan
Ya, itulah rekam jejak di era new normal!
Pergerakan ekonomi dimulai kembali
Tempat-tempat umum dibuka lagi 
Gedung-gedung mulai beroperasi
Namun,
Mari kita sejenak merenung 
Akankah “kehidupan new normal” berjalan sesuai harapan?
Apa semua memperoleh kesejahteraan secara rata?
Katanya negara bernafaskan pancasila
Berdalih “keadilan untuk semua”
Tapi lihatlah
Yang luka semakin terluka
Yang tak berkecukupan semakin menderita
Pengusaha besar saja kerepotan, apalagi kaum kecil?
Pedagang kesusahan
Buruh kehilang pekerjaan
Para veteran, jauh dari tunjangan
Petani bekerja dengan kepanikan
Pekerja jalan,
Tukang-tukang,
Bocah jalanan
Guru, 
Bahkan petugas medis pun kewalahan
Mereka meronta
Pekerjaan dibatasi, bahkan hilang.
PHK dimana-mana,
Mengais sesuap nasi kesulitan,
Anak-anak sekolah virtual, tapi sarana tidak memadai
Jaringan hilang tertinggal pelajaran,
Orang tua mengeluh tak bisa ajari anak,
Keuangan menurun,
Hidup semakin tidak beratur.
Itu hanya sebagian dari apa yang tampak
Lalu apa yang hendak ditawarkan ?
Apa yang hendak dilakukan?
Ketika bahkan masih banyak orang berjumawa di atas penderitaan yang lainya
Memikiri diri sendiri 
„Aku manusia tak punya‟
Batin seorang jelata
Dibunuh pelan-pelan
Ditikam keadaan
oleh pandemi maupun kemelaratan
“Ya Gusti, aku bisa apa?”
Ujianmu dan ujian dari negaraku
Semoga menambah kejembaran hati
Aku mohon,
Akhirilah…
Akhirilah…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar