Selasa, 10 Agustus 2021

Senarai Nestapa Di Balik Kata Merdeka

Di hamparan ladang yang ditanami benih-benih, peradaban telah menganyam cerita dari 
peluh dan linang air mata
Dalam pagutan waktu, persil demi persil ladang kelapangan dipenuhi doa-doa berdurja 
jenggala
Ku pandang lekat, tenang langit senja dengan bias rona jingga yang meneduhkan
Nanar. Dalam saku celana hanya terhimpun beberapa ribu, meski peluh lama meluruh tak 
terbendungkan
Temaram lampu kota mulai ramai menyala walau jalan lenggang dengan sedikit hiruk-
pikuk manusia
Termangu. Gedung menjulang tinggi menampilkan kemewahan, namun siapa sangka di 
tempat ini segala sendu bermuara
Seakan situasi bak komedi yang bertabuh ironi; lucu meski sebenarnya pilu
Raga mendorong gerobak usang menuju pulang. Beranjak menemukan asa yang masih 
tercecer diantara lipatan rahasia takdirku
Di sepanjang tapak perjalanan, kegelisahan mengkarat dalam pikiran yang sulit dieja
Aku terlahir dari rahim sengsara, tumbuh dari kelayakan yang maya
Getir merengkuh bahagia, menawarkan hidup dengan segala derita
Aku sudah lama memerankan sengsara, berdarah-darah meraup rupiah. Menyentak jerit-
jerit prihatin pun nihil hasilnya
Biarpun tinggal di negeri yang katanya ‘merdeka’
Negeri yang permai dengan kekayaan alamnya
Negeri yang mahsyur dikenal dunia atas keagungannya
Aku sang jelata; rakyat kecil yang terpaksa berjalan di atas dalih keadilan sosial bagi 
seluruh rakyat Indonesia
Ah, hidup rasanya semakin susah saja! Apalagi pandemi masih bertengger di mayapada
Langkah demi langkah terasa berat memasuki rumah. Hey, tapi apa yang kulihat disana?
Dua bocah terlihat nian sumringah di pelataran yang luasnya tak seberapa
Aku mendekat mengujar kalimat sederhana, “Nak, kalian sedang apa?”
Tersenyum tanpa menjawab, tangan-kaki terus bergerak menafsirkan sepotong rasa 
bahagia
Tak ada badai di wajah polos mereka, tak ada kesedihan di manik matanya meski sedang 
terjerembab dalam jurang hidup yang penuh nelangsa
Jari mungil lihai mengikat kerupuk pada talinya. Botol dan pensil yang berbenang pun 
telah di tata. Ada juga balon, pita, dan tak lupa bendera plastik dengan dua warna yang 
sarat makna
Agaknya aku sudah bisa mencerna; perayaan kemerdekaan di tengah keterbatasan.
Dengan semangat 45, terdendang lagu kebangsaan sebelum mereka memulai lomba yang 
dibuatnya sendiri. Nasionalis sekali, pikirku.
Aku menatap kibaran dwiwarna sang panji yang terikat di tiang dekat rumah
Kau salah satu lambang juang juga doa linuhung para leluhur bangsa 
Dimana seharusnya, kemenangan mereka tujuh puluh enam tahun silam diteruskan agar 
damai bersemayam dalam tubuh yang tlah abadi di haribaan Sang Pencipta 
Melupa segala duka, menelan sebongkah kecewa, bukankah hari ini aku harus ikut 
berbahagia?
Tuhan, semoga rahmat kemerdakaan yang kau titipkan pada bangsa kami menjadi 
sebenar-benar makna dari wujud merdeka; bukan sekedar kata belaka
Aku tumpukan hidupku pada kebesaran-Mu. Enyahkanlah nestapa dari pelupuk mata
Dirgahayu Indonesiaku. Sudilah kiranya melimpahruahkan kebebasan, kemakmuran, dan 
kesejahteraan di usiamu yang semakin senja
Lagi-lagi ku temui harapan bersemi. Lagi-lagi ku bangun mimpi kembali. Lagi-lagi ku 
rapalkan doa tiada bertepi. Meruntuhkan kesedihan dari luka-luka yang menganga

Tidak ada komentar:

Posting Komentar